Showing posts with label Antibiotik. Show all posts
Showing posts with label Antibiotik. Show all posts

Thursday, April 22, 2010

Bakteri Pneumokokus Kebal Antibiotik

Bakteri Pneumokokus

Kebal Antibiotik

Merry Wahyuningsih - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: bashkirbeehoney)

Jakarta, Bakteri pneumokokus yang dapat menimbulkan beberapa penyakit berat pada bayi, ternyata kebal terhadap banyak antibiotik. Jika bayi sudah terkena bakteri pneumokokus akan sangat sulit pengobatannya.


Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) atau pneumokokus adalah bakteri yang paling umum menyebabkan meningitis (radang selaput otak) pada bayi ataupun anak-anak.

Jenis bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit berat seperti infeksi pneumonia (radang paru), bakteremia dan sepsis (bakteri dalam darah), serta infeksi telinga dan rongga hidung (sinus).

Meningitis, bakteremia dan pneumonia adalah momok bagi bayi dan balita. Penyakit akibat bakteri pneumokokus ini merupakan pembunuh terbesar bayi dan balita di dunia (WHO, Juni 2003).

Bakteri pneumokokus hidup dan diam di tenggorokan individu yang sehat, baik bayi, balita dan orang dewasa. Bila daya tahan tubuh tidak kuat, terutama pada bayi, bakteri tersebut akan masuk ke dalam tubuh menuju paru (menyebabkan pneumonia), darah (bakteremia, sepsis) dan otak (meningitis).

"Bakteri ini menjadi sangat ganas karena tubuhnya dilindungi oleh semacam kapsul yang resisten (kebal) terhadap banyak antibiotik," ujar Dr Hardiono Pusponegoro, Sp.A(K), Staf Divisi Syaraf Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, dalam acara Konferensi Media tentang Hari Meningitis Sedunia yang bertema “Jangan Ambil Risiko, Ajak Setiap Ibu untuk Melindungi Buah Hatinya”, Jakarta, Kamis (22/4/2010).

Apabila tenggorokan bermasalah atau mengalami gangguan, bakteri pneumokokus akan masuk ke tubuh, dan sistem kekebalan tubuh kita tidak mampu melawannya, bahkan dengan antibiotik sekalipun.

Bakteri ini sangat mudah menyebar dan ditularkan melalui udara ketika batuk, bersin, juga melalui percikan ludah.

Setiap bayi berisiko tertular bakteri pneumokokus sejak mereka dilahirkan, yaitu 60 persen dari saudara kandung dan 12 persen dari ibu. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kematian bayi dan balita karena penyakit pneumokokus.

Menurut Dr Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, Sekretaris Satgas Imunisasi PP-IDAI dan Ahli Tumbuh Kembang Anak dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu:

Nutrisi
Dengan pemberian ASI, makanan lengkap dan seimbang, vitamin A, Zinc, dan lainnya.

Perilaku hidup sehat

  1. Tutup mulut atau hidung ketika batuk dan bersin
  2. Hindari mencium bayi dengan mulut
  3. Hindari infeksi virus berulang (flu berulang-ulang)
  4. Hindari polusi seperti asap rokok dan asap dapur
Vaksinasi dan imunisasi
  1. Dengan rutin imunisasi: BCG, DTP, Campak, Hib, Influenza
  2. Serta yang penting vaksinasi pneumokokus: PCV 7 dan PCV 13

Friday, April 9, 2010

Infeksi Akibat Kelebihan Antibiotik

Infeksi Akibat Kelebihan Antibiotik

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
(Foto: guardian)

Philadelphia, Penggunaan antibiotik yang tidak terkontrol lagi-lagi menimbulkan akibat fatal. Tak cuma tubuh kebal terhadap si antibiotik, tapi kelebihan antibiotik juga menimbulkan infeksi Staphylococcus yang tidak bisa disembuhkan.

Infeksi tersebut dinamakan VRSA (vancomycin-resistant Staphylococcus aureus). Selama ini penyakit infeksi Staphylococcus yang paling berbahaya adalah MRSA.

Seorang pasien dari Pennsylvania Hospital diketahui memiliki bentuk infeksi yang jarang dari Staph akibat penggunaan antibiotik secara berlebihan.

Pasien tersebut adalah seorang perempuan yang saat ini tengah menjalani dialisis ginjal. Petugas rumah sakit mengungkapkan bahwa perempuan ini tidak terinfeksi bakteri tersebut di rumah sakit milik University of Pennsylvania.

Para ahli mengatakan kasus langka ini disebabkan oleh penggunaan berlebihan antibiotik tingkat tinggi seperti vankomisin, dokter sering menggunakan obat ini jika pasien sudah gagal menggunakan obat lain.

Akibat penggunaan yang berlebihan, maka bakteri menjadi kebal atau mampu bertahan dengan serangan vankomisin. Obat ini biasanya digunakan untuk membantu melindungi pasien yang lemah atau ginjalnya tidak berfungsi dari serangan infeksi bakteri.

"VRSA tidak pernah ditularkan dari satu orang ke orang lain. Namun akibat infeksi ini bisa memicu munculnya resistensi pada pasien untuk mengembangkan dua infeksi yang lebih umum seperti MRSA dan resisten bakteri yang dikenal sebagai vancomycin-resistant Enterococcus atau VRE," ujar Neil Fishman, seorang dokter ahli penyakit menular, seperti dikutip dari The Philadelphia Inquirer, Jumat (9/4/2010).

Fishman menambahkan gen resistensi vancomysin dari VRE ditransfer ke MRSA sehingga bisa memicu timbulnya infeksi VRSA.

"Dengan melakukan cuci tangan bisa membatasi penyebaran berbagai macam infeksi. Dengan melakukan tindakan yang tepat, kemungkinan penyebaran bakteri VRSA ini tidak menyebar luas," ujar Dr Deena Athas dari Thomas Jefferson University.

Semua bakteri VRSA memiliki gen vanA. Kebanyakan pasien yang positif VRSA sebelumnya memiliki sejarah yang disebabkan oleh infeksi MRSA dan VRE yang juga mengandung gen vanA.

Gen vanA ini dipindahkan melalui plasmid (molekul DNA sirkuler di luar kromosom) dari VRE ke strain MRSA. Gejala yang ditimbulkan hampir sama dengan infeksi Staphylococcus aureus lainnya dan berkisar pada infeksi kulit ringan, sepsis dan infeksi organ dalam.

Hingga kini belum ada daftar resmi antibiotik apa yang efektif untuk melawan VRSA, jadi setiap antibiotik harus dilakukan uji kerentanan pada sampel yang terinfeksi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...