Showing posts with label otak. Show all posts
Showing posts with label otak. Show all posts

Monday, May 3, 2010

Cara Otak Membedakan Bau yang Tercium

Cara Otak Membedakan Bau

yang Tercium

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
ilustrasi (Foto: sciencedaily)

Ohio, Terdapat begitu banyak bau yang bisa dicium oleh indera penciuman karena bau memiliki karakteristik tersendiri. Saraf di otak mampu membedakan setiap bau tersebut.


Penemuan itu dilakukan peneliti yang tergabung dalam tim Professor Dr. Thomas Kuner dari Institute of Anatomy and Cell Biology di Heidelberg University Medical School dan Dr Andreas Schafer dari Max Planck Institute for Medical Research.

Hasil penelitian menunjukkan ada suatu reseptor (ujung saraf yang peka terhadap rangsangan) tertentu di pusat penciuman yang bisa membedakan bau yang hampir sama. Hal ini juga dihubungkan dengan loop inhibitor antara sel-sel saraf yang berdekatan.

Bau akan melekat ke reseptor sel penciuman di mukosa hidung yaitu suatu tempat yang bisa memicu sinyal saraf. Sinyal-sinyal ini diproses di dalam suatu tempat yang dikenal sebagai bola penciuman (olfactory bulb) yaitu salah satu bagian dari otak.

Pada jaringan syaraf, sinyal yang masuk akan dikonversikan menjadi suatu pola listrik yang dikirim ke korteks otak besar dan daerah lainnya di otak yang dikenalinya. Setelah itu loop inhibitor lokal akan mampu mengenali bau yang tercium lebih tepat.

Penemuan mengenai prinsip aktivasi dari 'lateral inhibition" sebenarnya telah diketahui 43 tahun lalu oleh Haldan K. Hartline, George Wald dan Ragnar Granit yang menerima Hadiah Nobel.

Namun para peneliti dari Heidelberg ini untuk pertama kalinya berhasil menegaskan mengenai mekanisme yang sama untuk sistem penciuman. Hasil ini telah diterbitkan dalam jurnal Neuron.

"Kami memanipulasi pengolahan informasi yang sangat spesifik pada bola penciuman dan kemudian mengukur efeknya berdasarkan waktu reaksi. Dengan demikian dapat membuktikan bahwa loop dari inhibitor lokal bisa membedakan bau kombinasi yang sangat mirip jauh lebih cepat," ujar Prof Kuner, seperti dikutip dari ScienceDaily, Selasa (4/5/2010).

Wednesday, April 28, 2010

Otak Manusia Hanya Mampu Lakukan 2 Tugas Sekaligus

Otak Manusia Hanya Mampu Lakukan

2 Tugas Sekaligus

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: abcnews)

Paris, Mengerjakan banyak hal sekaligus (multitasking) menjadi kebiasaan banyak orang. Tapi mengerjakan lebih dari 2 tugas tidak akan mendapat hasil maksimal, karena otak manusia didesain hanya bisa mengerjakan maksimal 2 tugas sekaligus.


Sebuah penelitian menunjukkan otak bagian korteks prefrontal medial (MFC) akan berbagi separuh-separuh ketika ada dua tugas yang harus dikerjakan bersamaan.

Tapi ketika ada satu tugas lagi yang harus dikerjakan otak akan mengalami kekacauan yang membuat pengerjaan tugas tidak fokus.

"Hasil ini menunjukkan bahwa kita dapat dengan mudah melakukan dua tugas seperti memasak sambil berbicara di telepon. Tapi jika ada lebih dari 2 tugas yang dilakukan, maka yang terjadi adalah timbul kekacauan," ujar peneliti Etienne Koechlin dari Universite Pierre et Marie Curie di Paris, Prancis, seperti dikutip dari LiveScience, Kamis (29/4/2010).

Peneliti melibatkan 32 partisipan yang diberikan tugas dan dilengkapi dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk melakukan scan otaknya.

Peneliti melihat selama diberikan tugas ganda, maka MFC membagi tugas tersebut. Satu belahan otak mengerjakan tugas yang besar dan menunjukkan adanya aktivitas, sedangkan wilayah lain mengerjakan tugas yang lebih kecil.

Kemudian peneliti memberikan satu tugas lagi sehingga ada 3 hal yang harus dikerjakan. Ternyata didapatkan penurunan akurasi dari subjek yang ada. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Science.

"Pada dasarnya otak berperilaku seolah-olah setiap lobus frontalis bertugas untuk mengejar tujuannya sendiri. Sehingga masing-masing belahan sibuk mengelola satu tugas dan tidak ada tempat untuk tugas ketiga," ujar Koechlin.

Hasil ini menjelaskan mengapa manusia akan merasa sulit atau membutuhkan waktu yang lama untuk membuat keputusan jika ada lebih dari dua hal yang mendasarinya.

Jika ada tiga atau lebih pilihan, maka subjek cenderung tidak mengevaluasinya secara rasional tapi hanya membuatnya hingga tersisa dua pilihan saja.

Thursday, April 22, 2010

Bayi yang Dibiarkan Nangis Terlalu Lama, Otaknya Bisa Rusak

Bayi yang Dibiarkan Nangis

Terlalu Lama, Otaknya Bisa Rusak

Vera Farah Bararah - detikHealth


img
Ilustrasi (Foto: mychildhealth)

London, Saat bayi baru mulai menangis, ada orangtua yang terkadang membiarkannya dulu baru setelah itu menolongnya. Tapi bayi yang sering dibiarkan menangis terlalu lama bisa memiliki masalah dalam pengembangan otaknya.


Penelope Leach, seorang pakar kesehatan anak menemukan bayi yang tertekan berkali-kali dan dibiarkan menangis lama berisiko mengembangkan masalah di kemudian hari.

Studi membuktikan otak bayi yang dibiarkan menangis untuk jangka waktu lama, berisiko mengalami kerusakan dalam perkembangannya yang dapat mengurangi kapasitasnya untuk belajar.

"Ini bukan sekedar pendapat, tapi sebuah fakta bahwa membiarkan bayi menangis berpotensi merusak otaknya. Jadi mengapa harus mengambil risiko seperti itu?" ujar Leach, seperti dikutip dari Independent, Jumat (23/4/2010).

Apa yang diungkapkan oleh Leach ini menimbulkan kontroversi dengan seorang guru Gina Ford yang secara ketat menerapkan metode untuk membiarkan bayi menangis selama 20 menit.

Gina menyarankan orangtua baru untuk membiarkan bayinya menangis agar si bayi mendapatkan pembelajaran mental untuk bisa tidur dengan sendirinya.

"Seorang bayi yang sudah terlalu lama menangis pada akhirnya akan berhenti. Hal ini bukan karena ia telah belajar untuk tidur sendirian, tapi karena ia kelelahan dan telah putus asa untuk mendapatkan bantuan," ungkap Leach.

Tapi Lech punya argumen bahwa menangis itu adalah satu-satunya cara bayi untuk memberikan sinyal ketika merasa tidak nyaman atau tertekan.

Jika bayi semakin keras menangis menunjukkan ia sedang stres, dan stres yang akut bisa menyebabkan reaksi hormonal berantai yang pada akhirnya dapat merangsang kelenjar adrenalin untuk melepaskan hormon stres.

Menurut Lech, jika kejadian ini berlangsung terus menerus maka bisa menghasilkan banyak hormon stres yang dapat merusak otak bayi.

"Hal ini bukan berarti bayi tidak boleh menangis atau orangtua menjadi khawatir jika semua bayinya menangis. Karena bukan menangis yang buruk untuk bayi, tapi menangis yang tidak mendapatkan responslah yang bisa berakibat buruk," kata Lech.

Hal tersebut diamini oleh Anastasia Baker, seorang direktur Night Nanny yang mengungkapkan tak ada salahnya untuk meninggalkan bayi menangis selama beberapa menit. Tapi yang bermasalah adalah jika orangtua membiarkan bayinya menangis terlalu lama hingga si bayi tertidur.

"Jelas tidak ada yang menganjurkan untuk meninggalkan bayi menangis dalam waktu lama. Tapi saya rasa Anda dapat meninggalkan bayi beberapa menit lalu mendatanginya untuk menenangkannya. Hasil ini telah menunjukkan bahwa dengan menggunakan teknik ini dapat membantu mengatasi masalah tidur pada anak dan memiliki efek yang sangat positif pada kehidupan keluarganya," ujar Mandy Gurney, pendiri Millpond Sleep Clinic.

Jadi jika mendengar bayi Anda menangis, sebaiknya tak membiarkannya menangis untuk waktu yang terlalu lama. Karena hal ini bisa berdampak bagi perkembangan otaknya akibat hormon stres yang dihasilkan terlalu tinggi.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...